BELAJAR SESUAI KEMAMPUAN

Cara membuat diagram lingkaran dari pecahan

Diterbitkan pada · Diperbarui pada

Untuk mencari sudut sebuah juring, bagi hitungannya dengan total lalu kalikan dengan 360°. Jadi 9 dari 24 adalah 3/8 putaran, yaitu 135°. Sudut semua kategori harus berjumlah 360°, dan jumlah itu menjadi pemeriksaannya. Jika kamu hanya butuh pecahan tiap kategori, kalkulator pecahan yang diwakili suatu bagian menghitung dan menyederhanakannya. Jika kamu mencari tabel padanan antara pecahan putaran dan derajat, lihat panduan pecahan putaran, derajat, dan radian.

Apa yang dilakukan menurut data yang kamu punya
Kamu punyaPerhitungan sudutContoh
Hitunganbagi dengan total, kali 360°9 dari 24 → 135°
Pecahankali 360°1/8 → 45°
Persentasekali 3,6°10% → 36°

Pada ketiga baris, titik awalnya sama: pecahan lingkaran yang ditempati kategori itu, dan yang berbeda hanya bentuk data yang diterima. Jika kamu punya pecahannya dan ingin menyatakannya sebagai persentase, pakai konversi pecahan ke persen. Selanjutnya dalam panduan ini dipakai baris pertama, yang paling umum dalam survei.

Alat pecahan dari suatu jumlah mengerjakan langkah 3 untuk pecahan apa pun. Di sini sudutnya bulat karena 36 membagi 360, dan setiap siswa menempati 360 ÷ 36 = 10°.

Pembagian lengkap 36 siswa
Cara berangkatSiswaPecahanSudut
Angkot155/12150°
Jalan kaki121/3120°
Sepeda61/660°
Sepeda motor31/1230°
Total361360°

Baris total menutup tabel. Jika sudut totalnya bukan 360°, ada pecahan yang salah hitung atau ada kategori yang terlewat.

Cara menggambar juring dengan busur derajat

Gambar lingkaran dengan jangka dan tandai pusatnya. Tarik jari-jari tegak ke atas dari pusat: itulah garis 0° dan awal juring pertama. Letakkan busur derajat dengan pusatnya di pusat lingkaran dan tanda 0° pada garis itu, ukur sudut pertama searah jarum jam, lalu tarik jari-jari penutupnya.

Jari-jari itu menjadi awal juring berikutnya, jadi setiap pengukuran berangkat dari tempat sudut sebelumnya berakhir, bukan dari garis 0°. Setelah juring terakhir, jari-jari penutupnya harus bertemu dengan garis awal. Jika tidak bertemu, jumlahkan sudut yang sudah diukur untuk melihat di mana selisihnya menumpuk.

Diagram lingkaran 36 siswa Lingkaran dengan empat juring yang diukur dari jari-jari tegak searah jarum jam: angkot 150 derajat, jalan kaki 120 derajat, sepeda 60 derajat, dan sepeda motor 30 derajat; jumlahnya 360 derajat. 150° 120° 60° 30° Angkot: 150° Jalan kaki: 120° Sepeda: 60° Sepeda motor: 30°
Juring pertama berawal dari jari-jari tegak dan yang lain menyusul searah jarum jam. Keempat sudutnya berjumlah 360°.

Tanpa busur derajat, lipatan kertas bisa membantu: melipat lingkaran menjadi dua menandai 180°, dan melipat sekali lagi menandai 90°. Panduan pecahan putaran, derajat, dan radian memuat padanan yang paling sering dipakai, seperti 45° untuk seperdelapan. Jika kamu lebih suka mewarnai lingkaran yang sudah terbagi sama besar, alat untuk merepresentasikan pecahan menggambarnya.

Contoh soal: cara 36 siswa berangkat ke sekolah

Di satu kelas ada 36 siswa: 15 naik angkot, 12 berjalan kaki, 6 naik sepeda, dan 3 naik sepeda motor. Hitung sudut setiap juring.

  1. Jumlahkan hitungannya. 15 + 12 + 6 + 3 = 36, yaitu totalnya.
  2. Ubah setiap hitungan menjadi pecahan dan sederhanakan. 15/36 = 5/12, 12/36 = 1/3, 6/36 = 1/6, dan 3/36 = 1/12.
  3. Kalikan setiap pecahan dengan 360°. 5/12 × 360 = 150, 1/3 × 360 = 120, 1/6 × 360 = 60, dan 1/12 × 360 = 30.
  4. Jumlahkan sudutnya. 150 + 120 + 60 + 30 = 360.

Sudutnya adalah 150°, 120°, 60°, dan 30°.

Pemeriksaan. Keempat pecahan berjumlah 5/12 + 4/12 + 2/12 + 1/12 = 12/12 = 1, satu putaran penuh.

Jika derajatnya tidak bulat

Jika total membagi 360, setiap satuan bernilai bilangan bulat derajat dan semua sudut bulat. Jika tidak membagi, sebagian sudut tetap bisa bulat. Dengan 16 jawaban yang terbagi 8, 4, 2, dan 2, 360 ÷ 16 = 22,5° per jawaban, tetapi juringnya berukuran 180°, 90°, 45°, dan 45°. Ujinya adalah memeriksa setiap pecahan yang sudah sederhana: hasilnya bulat jika penyebutnya membagi 360.

Dengan 7 suara yang terbagi 3, 2, dan 2, tidak ada yang bulat, karena 3/7 × 360 = 1080/7 dan 2/7 × 360 = 720/7. Dalam desimal, 1080/7 ≈ 154,29° dan 720/7 ≈ 102,86°, dibulatkan ke dua tempat desimal dengan galat kurang dari 0,005°. Karena berupa desimal berulang, keduanya tidak bisa ditulis lengkap. Jumlah tepatnya adalah 1080/7 + 720/7 + 720/7 = 2520/7 = 360.

Jika dibulatkan ke satu tempat desimal, hasilnya 154,3°, 102,9°, dan 102,9°, berjumlah 360,1° dan lingkarannya tidak menutup. Satu koreksi yang mungkin adalah mengurangi sepersepuluh itu dari salah satu juring 102,9°, sehingga 154,3° + 102,8° + 102,9° = 360,0°. Kamu juga bisa membulatkan ke derajat bulat, 154° + 103° + 103° = 360°, yang memang bisa ditandai pada busur derajat sekolah. Simpan pecahannya sampai langkah terakhir, dan alat pembulatan pecahan memberi perkiraan beserta galatnya.

Kapan memakai diagram batang, bukan diagram lingkaran

Diagram lingkaran cocok untuk sedikit kategori yang membentuk satu keseluruhan, terutama jika salah satunya menempati setengah atau seperempat putaran, karena tanda itu mudah dikenali sekilas. Dengan banyak kategori atau nilai yang mirip, dua juring 36° dan 40° nyaris tidak bisa dibedakan. Pada diagram batang, perbedaan itu terlihat sebagai panjang pada skala yang sama.

Wikipedia bahasa Indonesia mencatat bahwa membandingkan bagian-bagian diagram lingkaran itu sulit, dan diagram batang sering bisa menggantikannya. Pecahan setiap kategori dihitung dengan cara yang sama pada kedua diagram, dan frekuensi relatif tiap kategori adalah pembagian hitungan dengan total yang sama, seperti dijelaskan di panduan frekuensi relatif. Jika datanya berupa proporsi dari suatu pembagian, pembagian proporsional menghitung bagian masing-masing.

Sumber

Wikipedia bahasa Indonesia, artikel Diagram lingkaran: sudut dan luas juring sebanding dengan nilai yang diwakilinya, serta keterbatasan diagram lingkaran dibanding diagram batang (diakses 17 Oktober 2026).

Pertanyaan umum

Mengapa satu lingkaran 360°, bukan 100?

Itu konvensi warisan lama, dan 360 praktis karena punya 24 pembagi. Karena itu setengah, sepertiga, seperempat, seperlima, seperenam, seperdelapan, dan sepersepuluh putaran menghasilkan derajat bulat, seperti 72° untuk seperlima. Dengan 100 bagian, sepertiga sudah berupa desimal berulang.

Bisakah membuat diagram lingkaran jika persentasenya tidak berjumlah 100%?

Cari dulu penyebabnya: mungkin ada kategori yang hilang, seperti "lainnya", atau ada galat pembulatan. Jika datanya benar dan tidak ada yang perlu ditambahkan, bagi setiap persentase dengan jumlahnya. Dengan 21%, 28%, dan 21% jumlahnya 70%, dan sudutnya 108°, 144°, dan 108°. Dengan begitu totalnya 360°.

Bagaimana jika setiap orang boleh memilih dua pilihan?

Juring tidak lagi menjadi bagian dari satu keseluruhan. Jika 14 dari 20 orang memilih satu pilihan dan 9 memilih pilihan lain, pecahan 14/20 dan 9/20 berjumlah 23/20, sehingga sudutnya berjumlah 414°. Untuk jawaban ganda, pakai diagram batang dengan persentase orang yang memilih tiap pilihan.

Bisakah membuat diagram lingkaran dari jumlah uang?

Bisa, dengan cara yang sama: jumlahkan semua nominal untuk mendapat total, lalu bagi setiap nominal dengan total itu. Dengan Rp12.500, Rp7.500, dan Rp5.000 totalnya Rp25.000 dan sudutnya 180°, 108°, dan 72°. Frekuensi relatif adalah pembagian yang sama.

Langkah berikutnya

Panduan Pecahan Panduan pecahan untuk konsep dasar, operasi, desimal, penerapan, dan pemeriksaan kesalahan, dengan contoh yang bisa diikuti.
Laporkan kesalahanCara kami menangani koreksi

Gunakan kalkulator pecahan

KALKULATOR SELALU SIAP DIGUNAKAN

Simpan kalkulator

Buka menu browser lalu pilih “Instal aplikasi” atau “Tambahkan ke Layar Utama”. Kamu juga bisa menandai halaman ini.